Wriring by Heart is Menulis dengan Hati

 


Bila kamu di sisiku, hati rasa syahdu

Satu hari tak bertemu, hati rasa rindu

Kuyakin ini semua, perasaan cinta

Tetapi hatiku malu, untuk menyatakannya

( bacanya sambil nyanyi ya.... 🥰 ) 

Dua bait syair lagu ciptaan dari sang maestro dangdut yang dijuluki raja dangdut Rhoma Irama seketika terlintas saat membaca flyer di group Whatssap kelas ke-17 Komunitas Belajar Menulis Nusantara ke 30 sore tadi sekitar pukul 16.12 WIB. Kok ya tambah penasaran tingkat ubun-ubun juga dengan caption dari sang moderator mbak Arofiah Afifi, S.Pd. Bu momod yang nama beken di dunia penggiat literasi sering di sebut mawar Sofia ini, menuliskan capture sebuah pertanyaan pancingan yang cukup menantang "bagaimana agar tulisan kita bisa datang dari Hati?Kuncinya adalah  tulislah tulisan dengan ketajaman emosi."

Apa hubungannya ya sob menulis dengan bait lagu syahdu di atas....? Jangan-jangan bang haji Rhoma Irama pada saat menulis syair lagu yang berjudul syahdu tersebut,      benar-benar dari hati saat emosi syahdunya sedang tajam, yang kemudian dituangkan dalam setiap lyrics yang touching saat dinyanyikan. Oleh karenanya sampai ke hati para penikmatnya hingga sampai sekarang. Hmmmmm...salut.salut.salut. 

Ketajaman emosi dalam menulis dari hati malam ke 17 KBMN gelombang 30 ini disampaikan Ibu narasumber Ibu Emutwae alias Mutmainah, M. Pd. Seorang ustadzah dan ketua kelas KBMN gelombang 24 yang konon katanya selalu F1 dengan hasil tulisan yang berbobot tidak kaleng-kaleng, penuh makna dan dari hati. Terbuktilah, di Komunitas Belajar Menulis Nusantara gelombang 30 menjadi narasumber beberapa judul materi dan bukti karya tulisan dalam  bentuk buku maupun karya digital yang sudah tidak diragukan lagi. 

Seperti biasa, pembukaan kelas yang hangat yang diselingi dengan puisi luar biasa indah secara diksi dan isi dengan irah-irahan RASA YANG HIJRAH karya Emutwae sang narasumber serta sedikit notice cantik kepink-pinkan untuk penyemangat dalam menulis " sesuatu yang ditulis dengan hati,  maka akan sampai di hati pula". Eiitt maksudnya bukan nulis pakai hati pegang perangkatnya, tetep pakai tangan dong.... wkwkwk besyanda, besyanda... 

Writing by Heart is Menulis dengan Hati, apa sih?? 

Sejatinya menulis adalah ketrampilan tertinggi setelah membaca dan berbicara. Menulis dengan hati artinya jadikan hati sebagai inspirasi saat menulis. Jadikan hati sebagai sumber untuk mengolah ide dan inspirasi yang disampaikan melalui tulisan. Otak dan pikiran hanyalah alat dari proses menulis yang bersumber dari hati tersebut. Tulisan adalah jiwa, setiap yang berjiwa pasti bisa menulis, tulisan dengan hati akan sampai ke hati.

Terus gimana tuh menulis dengan hati, apa ada triks and tipsnya? kan susah.... 😇

Kalemzzzz sob, di sini ada aluasannya dari narasumber tentang apa saja dan bagaimana tips menulis dengan hati. Jangan jutek dulu.... heheh

Tips Menulis dengan Hati, menurut pemateri ada beberapa, antara lain:

1. Libatkan emosi positif

Tulis apa saja yang kita rasakan, kita amati, dan kita dengarkan, jangan lupa beri warna dan rasa pada tulisan kita. Tulis semuanya apa adanya, tanpa perlu diedit terlebih dahulu. 

Saat kita menuliskan tentang kesedihan gambarkan kesedihan itu. Bagaimana rasanya sedih, tulis saja seperti kita sedang berbicara curhat pada  sahabat kita jika sedang sedih. 

Saat kita sedang marah sampaikan rasa amarah itu dalam kata kata. Sehingga seolah pembaca merasakan aura kemarahan kita.

Mengapa suasana dan emosi dirasa perlu untuk diolah lalu dituangkan ke dalam tulisan? Karena saat kita menulis dengan memainkan suasana dan emosi, maka tulisan yang dibuat pun akan memiliki rasa sehingga pembaca pun akan menikmati tulisan yang dibuat.

Namun jangan salah menempatkan emosi, apabila kita sedang dalam keadaan marah atau sedih jangan memaksa untuk menulis tulisan yang menyenangkan karena mood nya tidak sesuai dengan ide yang akan dituliskan. 

Dalam menulis, jangan ragu untuk menuangkan semua ide yang kita miliki. Anggap saja sama seperti menulis diary namun dengan berbagai bentuk tulisan. Saat sudah terbiasa, menulis pun akan menjadi kegiatan yang menyenangkan dan bahkan membuat candu kepada orang yang melakukannya

2. Libatkan panca indera. 

Simak nih Sob, contoh cuplikan cerpen yang keren dari narasumber!

Tiga sahabat itu meringkuk ketakutan. Di tengah samudra biru, mereka terombang-ambing diatas kapal yang sudah lubang sana sini. Tangan mereka terikat jaring dengan kuat, sementara mulut kelu dalam gigil kedinginan. 

Dari kejauhan

Sesosok makhluk yang besar semakin mendekati mereka.

Makhluk itu sangat besar, tingginya melebihi pohon kelapa. Badannya sebesar gedung tingkat delapan. Surainya mencuat tinggi berwarna keperakan disinari matahari. Entah makhluk apa yang mereka lihat. Matanya yang merah menampakkan amarah. Makhluk itu menghantamkan ekornya dengan kuat. 

Byuuuurrrr, seketika air laut bergejolak setinggi 30 meter. Baju mereka basah kuyup, rasa dingin bukan masalah terbesar mereka. 

Tapi tatapan marah ikan itu. Ikan itu semakin mendekati mereka. Satu ayunan sirip lagi, akan tiba dihadapan mereka.

Ooh bagaimana nasib ketiga sahabat itu selanjutnya?

Naah bagaimana saat sobat guru membaca cuplikan cerpen ini? 

Tentu kita juga merasakan dingin, dan ketakutan seperti ketiga sahabat itu bukan. 

Jadikan tulisan kita memiliki rasa takut, senang, melalui melihat, mendengar, membau. Libatkan semua panca indera.

3. Tulis sesuatu yang kita sukai.

Sobat guru pasti pernah merasa jatuh cinta kan? Bagaimana kita menggambarkan orang yang kita sukai. 

Hemmm pasti paket lengkap untuk mendeskripsikannya. 

Mulai wajahnya  penampilannya, sikapnya. Bahkan senyumnya pun kita bisa melukiskannya dengan jelas. 

Kenapa bisa seperti itu? 

Kuncinya karena *SUKA*

Jangan menulis sesuatu yang tidak kita sukai. Ibaratnya jika Anda tidak menyukai minum kopi, jangan memaksa minum kopi. Pasti tidak akan menggambarksn kopi itu secara obyektif bukan? 

Intinya tulis sesuatu yang kita sukai. 

Jangan menulis karena terpaksa. Ingat tulisan yang ditulis dengan terpaksa hanya akan berupa rangkaian huruf tanpa nyawa. 

Kosong, bisu dan tak membekas di hati pembaca. 

4. Jangan Mengharap Pujian. 

Niatkan dalam hati yang pertama kata2 berikut ini. 

UNTUK APA KITA MENULIS? 

Jika kita menulis hanya karena pujian, orientasi kita bukan pada segi manfaat tulisan kita. Tapi semata mata karena ingin dipuji. Dan saat tulisan kita sepi dari pujian maka kita akan badmood bahkan malas untuk menulis.

Berbeda  dengan jika menulis semata2 karena ibadah ingin menebarkan sesuatu yg menghibur, yg bermanfaat. Dipuji atau tanpa dipuji kita akan terus melaju dengan tulisan kita. 

5. Who dan do. 

Wuaduh, bahasa planetnya keluar nih Narsumnya... heheh

Who artinya kenali siapa yang akan membaca tulisan kita. 

Jika kita ingin tulisan kita mengena pada remaja maka posisikan diri kita sebagai remaja. Mulai dari gaya bahasa, topik dan hal- hal yang lagi digandrungi remaja. 

Jadikan diri bpk/ibu sebagai pembaca. 

*Do* artinya pesan apa yang ingin kita sampaikan pada pembaca. Dengan harapan pembaca akan melakukan apa yang kita tulis dan kita harapkan sesuai tujuan tulisan kita.

6. READ AND READ. 

Seorang penulis hendaknya suka membaca. 

Ibarat kendaraan maka membaca adalah bahan bakar seorang penulis. Dengan membaca kita akan kaya akan ide, bahasa dan bahasan menulis.

7. JUJUR

Mulutmu bisa berbohong tapi tulisanmu tidak. Kata orang apa yang tertulis tak mampu berbohong bahwa tulisan adalah isi hati penulis, saat matamu bisa berbohong maka tulisanmu tidak, artinya tulisan kita adalah gambaran dari kita. 

Beuuuuuh, jleb bangets nih... 

8. Konsisten. 

Kata yang ini sangat mudah dikatakan tapi susah dilakukan. Ibarat berjalan selalu ada karang  yang menghadang angin badai menerpa, meruntuhkan kesadaran. 

Tapi yakinlah itu semua hanya kerikil tajam sandungan. Kan memperkokoh genggaman tangan dalam satu TUJUAN yakni menjadi penulis

Saat lelah mendera, pikiran buntu, atau _writer block_ menyerang istirahatlah. Tapi setelah itu ayunkan kaki lebih tinggi.

Nah, itu tuh beberapa tips yang mungkin bisa dijadikan rujukan. Jangan lupa terus berlatih menulis, luangkan waktu bukan waktu luang untuk menulis juga ya, belum bisa menghadirkan hati dalam menulis, lama lama pasti akan terbiasa dan ujug-ujug akan mengalir dengan swndirinya. Karena apa? 

Karena tulisan yang dibuat dengan hati akan sampai pada hati pula. Tulisan itu akan membius dan membekas dihati pembacanya. Saat tulisan kita memiliki soul, maka tulisan itu tidak akan membosankan. Melekat dalam ingatan.

Kira-kira nih sob, Apa sih manfaat Writing by Heart is Menulis dengan Hati itu? 

Ya segala sesuatu pasti ada manfaatnya dong sekalipun kotoran kambing aja bermanfaat buat pupuk. Apa lagi menulis, pakai hati pula tulisannya.. (bukan berarti karya kita disamakan dengan kotoran lho ya...?) 

Manfaat menulis dengan Hati itu:

1. Lebih menyentuh pembaca (Heart Touching), kaya lyrics bang Haji tadi sih... 

Tulisan yang dihasilkan dari luapan emosi, akan lebih menggugah pembaca. Sebaiknya tulisan yang datar, akan terasa membosankan.

Saat menulis, kita tidak hanya memproduksi kata-kata, namun kita tengah memproduksi rasa. Maka hadirkan perasaan dan emosi positif saat menulis. Instal dalam diri emosi positif sehingga membanjiri diri selama proses menulis. Emosi positif ini akan membimbing untuk terus menerus mengeluarkan kata-kata. Coba rasakan tulisan kita yang terbimbing oleh emosi positif, pasti sangat berbeda dengan apabila tulisan terbimbing oleh emosi negatif.

2. Cerita lebih nyata

Ketika kita sedang menulis sebuah novel sepenuh jiwa, maka tulisan tersebut akan memiliki nyawa dan seolah-olah bisa dirasakan secara nyata oleh pembaca. Kita pasti pernah kan membaca sebuah buku yang membuat kita merasa masih larut dalam cerita meskipun sudah selesai membacanya? Bisa jadi penulis buku tersebut sangat menjiwai tulisannya. Tere liye misalnya. 

3. Lebih mudah menyusun cerita. 

Tentu kita pernah merasakan _Writer Block._ Tak ada ide menulis. Jangankan menulis paragraf. Membuat kalimat saja kadang tak terangkai. 

Maka cobalah menulis dengan hati. Curhatkan semua isi hati. 

Tulis semua yang ada disekeliling kita, rasakan dengan indera kita. Tulis saja, tanpa mengindahkan kaidah penulisan. Tulis seolah kita berbicara. Menulislah dengan berbagi rasa lewat abjad, dan menyentuh hati pembaca lewat tulisan.

Ajiebz pol pokoknya materi KBMN yang luar biasa ini, apalagi ada tantangan membuat tulisan dari sebuah gambar anak kecil sedang tertidur dengan gelas berisi receh disampingnya, pesertanya ciamik semua. Malu aku, cuma jadi penyimak thok.... 

Menulislah dan tulislah sebisa mungkin dengan menghadirkan hati di setiap rangkaian katanya.

 "Tulisan yang keluar dari hati, akan sampai ke hati pembaca. Tulisan yang muncul dari tangan, hanya akan sampai di tangan pembaca". istilah dari Cahyadi Takariawan

Ya....Menulis adalah soal perasaan. Tidak cukup hanya pengetahuan, seorang penulis harus memiliki pemahaman. Pemahaman dimulai dari memahami diri sendiri baru memahami orang lain. Penulis yang punya rasa akan menjadi sensitif dan mampu menangkap banyak hal. Efek ke tulisan, tulisannya akan menjadi lebih dalam dan dapat dimaknai oleh pembaca karena menyentuh pembaca. Dengan melibatkan rasa, penulis akan merasakan pengalaman keterlibatan sesuatu yang menggelegak dari dalam dirinya dan hal itu kemudian akan ditangkap oleh pembacanya.

Menulis adalah seni. Seni adalah keindahan. Seni adalah kreativitas. Seni juga bisa berarti jalan. Dengan seni, penulis memiliki jalan yang otentik di dalam karya-karyanya yang sulit ditiru oleh orang lain. Jadi hal ini adalah sebuah ciri khas mendalam dari penulis.

Luar biasa malam ini bergetar rasa hati, iri dengan mereka yang sudah lihai dan masyhur dalam menulis yang menghadirkan hatinya. Sampai tidak terasa waktu mengibas begitu saja, rasanya dua jam lebih tidak cukup untuk menfasirkan apa yang telah disampaiakan mbak Emutwae dan Sebut saja Mawar sebagai momodnya... 

Terimakasih KBMN terimakasih... 











Komentar

Posting Komentar