Menulis Cerita Fiksi, Siapa Takut?????
Tokoh fiksi yang membuat berkelana pada zaman ketika saya kecil adalah Pendekar Chinmi di komik Kungfu Boy. Meskipun dengan runtutan cerita rekaan atau tidak nyata yang membawa saya berimajinasi mengikuti alur tapi saya suka sangat, saya tetap anggap Chinmi itu kerenn. Bahkan sampai sekarang saya masih koleksi komiknya.
Lha kok ya, sekeren itu ya tokoh dan ceritanya? Padahal Cerita Fiksi...
Wah, jadi penasaran nih. Setelah segede ini sebagai seorang yang sehari-hari berhadapan dengan banyak bocah di sekolah, dimana dunia bocah ya mesti dipenuhi dengan bermain, suka kalau di ceritain dongeng atau kisah meskipun dari negeri antah brantah yang tidak ad dalam kenyataan. Selain menarik, cerita juga dapat melatih literasi bocah lagi.
kebetulan malam ini, di kesempatan kuliah Komunitas Belajar Menulis Nusantara gelombang 30 pertemuan ke 10 pas dengan bahasan " Kiat Menulis Cerita Fiksi" oleh Narasumber Bapak Sudomo, S.Pt seorang yang hebat dalam dunia tulis menulis fiksi.
Beliau juara 1 lomba blog PGRI tingkat nasional dan sering menjuarai lomba literasi di NTB, Saat ini beliau juga sebagai Duta teknologi NTB 2023 dengan dimoderatori oleh guru muda si hitam manis berkacamata si Ahmad Sholeh, S. Pd. Gr. Padahal yang nulis ini juga hitam nggak ada manis manisnya dong... heheh
Balik lagi, dalam belajar di KBMN ini saya saya masih merasa takut untuk menulis, apalagi menulis cerita fiksi. menulis resume juga masing awang-awangen alias tidak yakin. Tapi, dengan adanya materi ini saya ingin rasa takut itu bisa jadi rasa tertarik untuk menulis cerita fiksi sendiri agar saya bisa membuat cerita fiksi karya diri yang bisa saya bagi, ceritakan dihadapan bocah-bocah dan khalayak ramai. Syukur bisa laris di pasaran dalam dunia sastra.
Benar apa kata Pak Sholeh si Moderator KBMN malam ini bahwa
Karya fiksi memberi kesempatan kepada pembacanya untuk menghidupkannya, kaya saya yang membaca komik Kungfu Boy. itu sejalan dengan pernyataan Gilbert K. Chesteeton "Sastra adalah sebuah kemewahan, fiksi adalah sebuah kebutuhan".
Materi malam ini tentang Kiat Menulis Cerita Fiksi sangat menarik dengan diawali pertanyaan pemantik kepada peserta untuk membangun kebutuhan apa yang ingin diharapkan dengan materi tersebut, pertanyaan pemantik tersebut diantaranya
1. Apa motivasi belajar menulis cerita fiksi?
2. Pengalaman menulis cerita fiksi?
Dari pertanyaan pemantik itu, ragam tanggapan yang muncul dari beberapa peserta, bahkan sudah ada yang sudah sampai pada tahap menulis cerita anak dan gurindam. Beda dengan saya yang masih tahap coreng-moreng belum membuat apapun karya tentang cerita fiksi.
Bapak Sudomo, S. Pt, narasumber yang sudah menerbitkan banyak menerbitkan 3 buku cerita fiksi dari penerbit mayor dan indie memberikan pernyataan untuk menyamakan persepsi dalam Syarat wajib yang ada dalam menulis cerita fiksi agar menarik sebelum membahas kiat-kiatnya. yaitu:
1. Komitmen dan niat yang kuat;
2. Kemauan dan kemampuan melakukan riset;
3. Banyak membaca cerita fiksi;
4. Mempelajari KBBI dan PUEBI;
5. Memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi; dan
6. Siap menjaga konsistensi menulis cerita fiksi.
Selain Pak Domo sapaan narasumber itu juga memaparkan tentang dasar-dasar menulis cerita fiksi, salah satunya adalah mengenal unsur pembangun cerita, yaitu tema, premis, latar/setting, penokohan, alur/plot, dan sudut pandang. Cuman, untuk bahasan yang disampaikan hanya premis saja yang diutarakan, beliau menganggap unsur lainnya sudah familar
*Premis* adalah ringkasan cerita fiksi dalam satu kalimat yang terdiri dari karakter, tujuan tokoh, rintangan/halangan, dan resolusi.
Contoh premis novel yang cukup terkenal adalah _"Seorang penyihir muda yang berusaha membebaskan dunia dari kegelapan dengan melawan penyihir jahat_
Dari satu kalimat itu, penulis bisa mengembangkan menjadi satu cerita utuh. Kenapa demikian? Karena meskipun hanya dalam satu kalimat, premis merangkum cerita secara keseluruhan.
Selain itu, di dalam premis juga terdapat unsur pembangun cerita fiksi.
Nah....dari contoh premis tersebut, bisa kita uraikan menjadi tokoh: penyihir muda, tujuan tokoh: membebaskan dunia, tantangan: penyihir jahat, resolusi: dunia aman dari penyihir jahat bukan??
Jadi, setelah mengetahui unsur pembangun cerita fiksi. Sebagai penulis yang baru seperti saya, sebaiknya harus punya trik atau kiat agar bisa menulis cerita fiksi sendiri tanpa rasa takut.
Ya... meskipun cuma bermodal pengalaman membaca komik kung boy. Harapannya kan biar nggak takut buat cerita fiksi sendiri ya sob...??
Untungnya narasumbernya baik sekali, mau memberikan beberapa kiat menulis cerita fiksi. Minimal bisa jadi referensi untuk nanti saya kembangakan dan realisasikan. matursuwun Pak Domo....
Kiat menulias cerita fiksi dari Pak Narasumber, mas mo antara lain adalah:
1. Niat menulis dan komitmen menyelesaikannya;
2. Perbanyak membaca cerita fiksi karya orang lain;
3. Menentukan ide dan tema cerita fiksi;
4. Membuat kerangka/outline;
5. Mulai menulis; dan
6. Melakukan swasunting.
Niat menulis adalah modal kuat. Kiatnya, mulailah menulis cerita fiksi, selesaikan tulisan, minta masukan, lakukan perbaikan, publikasikan. Itulah trik agar agaimana untuk bisa menumbuhkan imajinasi agar dalam menulis cerita fiksi bisa dapat marwahnya. Apalagi bagi saya yang merasa kesulitan dan kurang PD kalau menulis cerita fiksi sebagai pemula sekali.
Jangan juga malu untuk cari sumber bacaan cerita fiksi lain sebagian sumber refernasi kita dalam menulis cerita fiksi, bikin judul yang menarik setelah nulis cerita selesai dengan judul yang membuat penasaran sebagian penarik, istilahnya eye catching gitu...
Intinya, jangan takut mencoba sih ya?
coba mulai bikin cerita nyata yang dibuat fiksi lebih menarik lho, yang penting adalah pengembangan konflik melalui
1. Tulis cerita yang relevan dengan karakter utama;
2. Konflik jangan mudah teratasi, meskipun konfliknya ringan;
3. Konflik berlapis;
4. Bangun suasana dalam konflik tergantung konfliknya seperti apa.
Wong MazMo aja Seorang sarjana Pertanian mau belajar menulis dan sudah bisa menerbitkan buku keren, menarik.
Yok bisa yok!!!, hempasakan rasa takut dan minder...
Komentar
Posting Komentar