Bercengkrama malam ke 13 dengan Pantun

Disana gunung disini gunung
Di tengah-tengah pulau Jawa
Wayangnya bingung dalangnya bingung
yang penting bisa ketawa

Tahu kan jargon pantun di atas di acara apa? 
Jargon pantun yang saya tulis adalah jargon khas salah satu acara komedi di salah satu acara televisi swasta Naaional dengan personil Parto, Sule, Aziz Gagap, Olga almarhum, Nunung, Andre dengan alur cerita nyleneh seperti layaknya wayang golek. Ada dalangnya ada wayangnya sebagai pemerannya. Biasanya, Jargon pantun didengungkan pas akhir acara mau kelar tanda tutup pagelaran komedinya.

Ngomongin jargon pantun. Jadi pas dengan Tema kelas hari ke 13 Komunitas Belajar Menulis Nusantara gelombang 30 tentang  KAIDAH PANTUN Bersama Narasumber dari alumni KBMN gelombang 17 sekaligus Guru Penggerak Angkatan 5 Kota Demak sang Ahli pantun Mas Miftahul Hadi, S. Pd. Seperti biasa, Narasumber selalu dipartneri sama sang momod yang malam ini dibersamai sama Ibu Helwiyah, S Pd. M.M yang biasa disapa Bu Ewi. 

Siapa yang tak kenal pantun?
Ya pantun adalah salah satu Karya Sastra lama yang merupakan kekayaan negeri kita Indonesia yang bisa dipelajari siapa saja. 

Waktu dulu, waktu kita sekolah juga pasti sudah diajari tentang pantun. Apa itu pantun, jenis pantun, fungsi pantun, cara membuat pantun, bahkan pada saat ini banyak para muda yang menggunakan pantun untuk joke joke merayu pasangan dan banyak acara resmi dan tak resmi yang sering menggunakan pantun sebagai pelengkap acara baik di pembukaan atau pas menutup acara. maksudnya sih biar geer aja, membangkitkan semangat... 

Mas Miftah, Mas Narasumber yang sudah menemukan passion dalam dunia tulis menulis tentang pantun hingga beliau sudah diundang sebagai juri event kemdikbud RI dalam avara Festival Pendidikan Negeri Serumpun di tahun 2021 dan baru  ulan Agustus lalu mendapatkan kesempatan untuk berbagi tentang materi yang sama di Timor Leste. Kali ini, di malam ini, malam ke 13 KBMN gelombang 30 mangajak kita semua untuk bercengkrama kembali dalam bahasan Kaidah Berpantun. 

Kelas materi yang dibuka dengan berderet deret pantun mengawali pertemuan, ada contoh dari Melayu, Tapanuli, Sunda, Jawa dan daerah lain. Meskipun dengan istilah berbeda nama di setiap daerah di seluruh nusantara, tapi semua merupakan pantun. 

Saya kutipkan ya sob, salah satu contoh pantun (Ende-Ende) dari Tapanuli yang ditulis Mas Narasumber

Molo mandurung ho dipabu,
Tampul si mardulang-dulang,
Molo malungun ho diahu,
Tatap siru mondang bulan.

Artinya:
Jika tuan mencari paku,
Petiklah daun sidulang-dulang,
Jika tuan rindukan daku,
Pandanglah sang bulan purnama.

Chakeeepppp..... 😗

Sobat guru semua, kita patut berbangga karena pantun telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda secara nasional pada tahun 2014. Menyusul pada tanggal 17 Desember 2020 pantun ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada sesi ke 15 intergovernmental comittee for the safeguarding of the intangible cultural heritage.

Eh, ternyata bulan depan diperingatinya Hari Pantun ya...? 

Tapi, Dengan penetapan tersebut, bukan berarti kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi, justru untuk terus memelihara sebagai warisan budaya tak benda dunia, pantun harus terus dikaji, ditulis sehingga terus lestari di masyarakat. Kita harus lestarikan dong.... 

Ayo, bersama kita kenal pantun lebih dalam lagi?!?!? 

A. Pengertian Pantun dari para ahli

Pantun menurut Renward Branstetter (Suseno, 2006; Setyadiharja, 2018; Setyadiharja, 2020) berasal dari kata “Pan” yang merujuk pada sifat sopan. Dan kata “Tun” yang merujuk pada sifat santun. Kata “Tun” dapat diartikan juga sebagai pepatah dan peribahasa (Hussain, 2019)

Pantun berasal dari akar kata “TUN” yang bermakna “baris” atau “deret”. Asal kata Pantun dalam masyarakat Melayu-Minangkabau diartikan sebagai “Panutun”, oleh masyarakat Riau disebut dengan “Tunjuk Ajar” yang berkaitan dengan etika (Mu’jizah, 2019)

Pantun termasuk puisi lama yang terdiri dari empat baris atau rangkap, dua baris pertama disebut dengan pembayang atau sampiran, dan dua baris kedua disebut dengan maksud atau isi (Yunos, 1966; Bakar 2020)

B. Fungsi Pantun

Dewasa ini, sebenarnya pantun sering dibawakan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya : digunakan dalam komunikasi sehari-hari, sambutan dalam pidato, menyatakan perasaan, lirik lagu, perkenalan,b erceramah/dakwah, dan lain sebagainya. 

Sekarang, dalam pidato tak lengkap rasanya kalau tidak ada pantun di bagian pembuka atau penutup.😁

Selain itu, fungsi lainnya antara lain :
- Sebagai alat pemelihara bahasa
- Panntun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir.
- Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat.
- Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

C. Ciri-ciri Pantun

Ciri pantun ya seperti pada umumnya yang sudah kita tahu, yaitu:
Satu bait terdiri atas empat baris

🍄Satu baris terdiri atas empat sampai lima kata

🍄Satu baris terdiri atas delapan sampai dua belas suku kata

🍄Bersajak a-b-a-b

🍄Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau pembayang

🍄Baris ketiga dan keempat disebut isi atau maksud. 

Narasumber juga tidak lupa kasih contoh dan penjabarannya, maksudnya biar menambah penguatan kita akan pantun sih. 

Memotong rebung pokok kuini,
Menanam talas akar seruntun,
Mari bergabung di malam ini,
Dalam kelas menulis pantun.

 Pantun di atas terdiri atas empat baris.

Baris pertama terdiri atas empat kata, baris kedua terdiri atas empat kata, baris ketiga terdiri atas empat kata, baris keempat terdiri atas empat kata.

Baris pertama terdiri atas sepuluh suku kata, baris kedua terdiri atas sepuluh suku kata, baris ketiga terdiri atas sepuluh suku kata, baris keempat terdiri atas sepuluh suku kata

Baris pertama berakhiran kata ni,
Baris kedua berakhiran kata tun,
Baris ketiga berakhiran kata ni,
Baris keempat berakhiran kata tun.
Itu artinya sajaknya a b a b

D. Trik cara mudah menulis pantun

Agar mudah buat, pantun mana kita hendaknya memahami triknya, antara lain:

1. Memahami karakteristik/ciri-ciri pantun
2. Menguasai perbendaharaan kata
3. Menulis isi pantun
4. Menulis sampiran
5. Memahami perbendaharaan kata. Tujuannya adalah agar faham letak keindahan pantun pada pemilihan kata dengan bunyi akhir/Rima yang sama. 

Contoh:
Tahu, baju, perahu, suhu.
Baik, naik, Daik, asyik.
Cinta, pelita, kata, jelita, kota.
Datang, petang, batang, kentang.
Suka, cempaka, cuka, Malaka.

6. Usahakan jangan memakai nama orang, merk dagang dalam pemilihan kata. Karena akan mengurangi keindahan bahasa.
7. Usahakan membuat isinya terlebih dahulu.
Baris ketiga dan keempat. Setelah isi sudah selesai dibuat, barulah membuat sampirannya.

D. Beda Pantun, Syair, dan Gurindam

Aspek perbedaan Pantun, Syair dan Gurindam adalah terletak pada jumlah baris, sajak dan hubungan persajakannya. 
Pantun berisi 4 baris terdiri sampiran dan isi, syair 4 baris kontenny isi semua, Gurindam 2 baris. Sajak pada pantun abab, syair aaaa, dan Gurindam aa, hubungan persajakan pantun tidak ada hubungan sebab akibat, syair semua bwrhubungn, sedang Gurindam ada hubungan sebab akibat. 
detailnya bisa dilihat nih di tabel berikut:


Kiranya itu dulu yang bisa saya resume dari paparan narasumber KBMN malam ini, it's time to mengawal ibu suri dines ke RSI jadwal ngojek... heheh
semoga ada manfaat untuk menambah pengetahuan kita ya sobat guru, semua tentang pantun untuk nguri-uri, mlwestarikan sastra budaya sebagai kekayaan nusantara melalui cengkrama malam ini.









Komentar

  1. Kereen Pak Taufan
    Lanjutkan
    Mengalir resumenya

    BalasHapus
  2. Luar biasa. Resume yang lengkap dan jelas. semangat dan selamat bapak.

    BalasHapus

Posting Komentar