Senin malam Selasa serasa Minggu malam Senin, fikirannya besok kerja lepas libur akhir pekan karena hari ini grade tensi cuma 90/80 jadi dapat libur panjang off ke Sekolah nggak ngajar di kelas sepeti biasanya. Dari pagi lepas sholat subuh kepala nggliyeng, cuma rebahan seharian menyimak info di gawai, bukan saya banget type orang yang suka pencilatan tiba-tiba harus reabahan... wkwkwkwk
30 Oktober 2023, pelatihan Kelas Belajar Menulis Nusantantara gelombang 30 ini, sudah memasuki pertemuan ke 7, dari keseluruhan pertemuan sebanyak 30 kali.
Pertemuan ke 7 pelatihan Kelas Belajar Menulis Nusantara berjalan lancar dari awal hingga akhir. Ramai dengan banyaknya pertanyaan dari peserta grup KBMN gelombang 30. Di putaran ke 7 ini peserta KBMN menimba ilmu di kelas Menulis tanpa sekat dan batas agar semangat membuat karya dalam menulis tetap menyala💪🏻
Pada pertemuan ke 7 ini ada Narasumber keren bertalenta dengan predikat the Queen of Diction Ibu Maydearly yang memaparkan materi Diksi dan Seni Bahasa dalam Menulis, beliau di moderatori oleh ibu Mutmainah, M.Pd. Paparannya menghanyutian linimasa menjadi sebuah candu untuk meneguk cawan kejutan sampai akhir sesi dengan tajuk *Diksi sebagai Seni Bahasa* yang semoga menjadi cemilan menawan di pembuka malam yang elegan bagi para penulis.
Sebagai awal jumpa , Miss Lebak Banten menuliskan rangkaian sajak indah menyapa peserta dari seluruh Nusantara, kira-kira begini sajak sapanya..
Di bibir senja izinkan saya meminjam waktu untuk bersiul sambut lewat satu linimasa.
Dengan gerak jari menukik lembut saling berpaut, meluncur lewat emoji sarangheo
Ditemani dengan secangkir kopi yang mempertemukan kita di satu meja virtual. Sebuah tempat dimana sang emoticon☺️☺️ menjadi persembahan sebagai tanda perkenalan dari *Maydearly*.
bagaimana, mengayunkan malam membius waktu kan?
Sebagai penulis, penggemar bahasa dan sastra pasti peka akan bahasa indah yang menggugah selera dan rasa.
Semudah melentingkan nafas di udara. Begitu pula menuliskan untaian kalimat indah yang kita kenal dengan *DIKSI*.
Memang semudah itu?
Eeeh ga percaya yaa...
Sebelum saya lanjut, ada yang sudah kenal dengan Diksi?
Saya yakini semua penulis di kelas ini sudah tak asing dengan diksi. Mengapa Diksi begitu penting dalam kajian sebuah bahasa?
yess, tepat dan benar sekali...
Sebab banyak keindahan dari sebuah kata menjadi prosa yang melampaui bayu di udara.
Diksi bak irama tanpa aroma, menjadi senyawa indah mempesona melengkapi rumpun kata dengan sejuta makna.
Diksi – akar katanya dari bahasa Latin: *dictionem* Kemudian diserap ke dalam bahasa Inggris menjadi diction Kata kerja ini berarti: *pilihan kata*. Maksudnya, pilihan kata untuk menuliskan sesuatu secara ekspresif. Sehingga tulisan tersebut memiliki ruh dan karakter kuat, mampu menggetarkan atau mempermainkan pembacanya.
Dalam sejarah bahasa, Aristoteles – filsuf dan ilmuwan Yunani inilah yang memperkenalkan diksi sebagai sarana menulis indah dan berbobot. Gagasannya itu ia sebut diksi puitis yang ia tulis dalam Poetics – salah satu karyanya. Seseorang akan mampu menulis indah, khususnya puisi, harus memiliki kekayaan yang melimpah: diksi puitis. Gagasan Aristoteles dikembangkan fungsinya, bahwa diksi tidak hanya diperlukan bagi penyair menulis puisi, tapi juga bagi para sastrawan yang menulis prosa dengan berbagai genre-nya.
William Shakespeare dikenal sebagai sastrawan yang sangat piawai dalam menyajikan diksi melalui naskah drama. Ia menjadi mahaguru bagi siapa saja yang berminat menuliskan romantisme dipadu tragedi. Diksi Shakespeare relevan untuk menulis karya yang bersifat realita maupun metafora. Gaya penyajiannya sangat komunikatif, tak lekang digilas zaman.
Mungkin terbesit dalam labirin hati, akankah saya mampu berdiksi?
Jawabannya tentu *Yes*
Setiap penulis ia akan mampu berdiksi.
Ada 5 hal yang perlu dipelajari agar penulis mampu merangkai sebuah kalimat/paragraf dengan diksi yang mempesona.
Apa Sajakah itu, yukz kita simak bareng
Seorang penulis akan mampu berdiksi ababila ia mampu menerapkan 5 hal di berikut ini:
1. *Sense of Touch* adalah menulis dengan melibatkan indera peraba. indra peraba dapat digunakan untuk memperinci dengan apik tekstur permukaan benda, atau apapun. Penggunaan indra peraba ini sangat cocok untuk menggambarkan detail suatu permukaan, gesekan, tentang apa yg kita rasakan pada kulit. Aplikasi indra peraba ini juga sangat tepat digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang tidak terlihat, seperti angin misalnya. Atau, cocok juga diterapkan untuk sesuatu yang kita rasakan dengan menyentuhnya, atau tidak dengan menyentuhnya.
Contoh:
*Pada pori-pori angin yang dingin, aku pernah mengeja rindu yang datang tanpa permisi*
2. *Sense of Smell* adalah menulis dengan melibatkan indra penciuman hal ini akan membuat tulisan kita lebih beraroma. Tehnik ini akan lebih dahsyat jika dipadukan dengan indra penglihatan.
Contoh:
*Di kepalaku wajahmu masih menjadi prasasti, dan aroma badanmu selalu kugantungkan dilangit harapan*
3. *Sense of Taste* adalah menulis dengan melibatkan indra perasa. Merasakan setiap energi yang ada di sekitar kita. Penggunaan indra perasa sangat ampuh untuk menggambarkan rasa suatu makanan, atau sesuatu yg tercecap di lidah.
Contoh:
*Kukecup rasa pekat secangkir kopi di tangan kananku, sembari kugenggam Hp di tangan kiriku. Telah terkubur dengan bijaksana, dirimu beserta centang biru, diriku bersama centang satu.*
4. *Sense of Sight* adalah menulis dengan melibatkan indra penglihatan memiliki Prinsip “show, don’t tell". Selalu ingat, dalam menulis, cobalah menunjukkan kepada pembaca (dan tidak sekadar menceritakan semata). Buatlah pembaca seolah-olah bisa “melihat” apa yang tengah kita ceritakan. Buat mereka seolah bisa menonton dan membayangkannya. Prinsip utama dan manjur dalam hal ini adalah DETAIL. Tulislah apa warnanya, bagaimana bentuknya, ukurannya, umurnya, kondisinya.
Contoh
*Derit daun pintu mencekik udara di tengah keheningan, membuatku tersadar jika kamu adalah prasasti yang pernah kutinggali*
5. *Sense of hearing* adalah menulis dengan melibatkan energi yang kita dengar. Begitu banyak suara di sekitar kita. Belajarlah untuk menangkapnya. Bagaimana? Dengarlah, lalu tuliskan. Mungkin, inilah sebab mengapa banyak penulis sukses yang kadang menanti hening untuk menulis. Bisa jadi mereka ingin menyimak suara-suara. Sebuah tulisan yang ditulis dengan indra pendengaran akan terasa lebih berbunyi, lebih bersuara. Selain itu, penulis juga bisa berkreasi dengan membuat hal-hal yang biasanya tak terdengar menjadi terdengar.
Contoh
*Aku padamu seperti angin yang berlalu begitu saja, kini yang kupunya hanya melupa atas lara dari sajak jingga yang cedera*
Nah, Hanya 5 hal yang kita butuhkan dalam memadu Diksi. 5 hal sederhana, yang membantu tuas huruf mengalir menuju samudra kata yang mempesona kok
Menulis dengan melibatkan ke 5 panca indera juga mampu memantik karya tertuang lebih natural. Karena kita menulis dari apa yang dilihat, dirasa, diraba, didengar.
So,Sekarang tau kan kenapa bisa menukia diksi itu semudah melantingkan nafas ke udara. yang penting adalah bisa memadu padan kan dengan tata bahasa yang baik dan relevan agar tidak menyimpang maksud maknanya.
Tentukan jenis tulisan apa yang ingin dibuat. Jadi *Diksi* atau *Padanan Kata* seyogyanya, penulis yang baik adalah yang bisa memoles Diksi dalam setiap tulisan apapun jenisnya. Karena Diksi juga terlahir dalam berbagai Genre.
Pembaca tidak akan kebingungan selama Diksi/padanan kata yang kita tulis itu sepadan. Makanya perlu banyak membaca dan berlatih
Cara mempelajari Diksi, pertama adalah sering membaca novel/cerpen. Disini meng upgrade pengetahuan terhadap kata² asing yang sebelumnya tidak difahami.
Kedua adalah menarikan jari di google dengan mencari glosarium padanan kata.
Trik simple nya adalah mencoba memulai dengan memadu padankan setiap kata dengan kata pengganti/sinonim.
Dan intinya *Dicoba dulu* because practice makes perfect 🥰
Jadilah penulis sejati yang menjiwai
Penulis Sejati adalah:
Ia yang tak pernah putus asa
Ia yang tak pernah menyerah
Ia adalah seseorang yang selalu tersenyum dalam kesedihan
Dan Ia yang selalu menciptakan ide-ide baru 🥰🥰
*Jadilah Penulis Sejati* yang karyanya dikenang sampai mati.
Komentar
Posting Komentar