Antara Renjana Dan Menulis
Pernahkah kita sekalian merasakan ada kesenangan, ada happiness di dalam melakukan sesuatu?
Atau bahkan merasa ada getar dalam hati yang membuat gregetan untuk suatu hal yang betul-betul ingin dilakukan? ibaratnya... seperti ada yang tidak lengkap jika tidak melakukan hal itu... serasa "ah" kalau belum melakukan sesuatu itu...
kaya orang kasmaran yang sedang rindu kasihnya yang dicintai, inginya selalu ingin melakukan yang terbaik untuknya...
Yaa itulah *Passion*.
Passsion atau renjana merupakan kecenderungan yang kuat terhadap suatu aktivitas yang digemari dan disenangi oleh seseorang.
Menilik dari seorang ibu yang saya tau dari sebuah komunitas grup WA KBMN, meski belum mengenal dan bersua secara langsung, saya sudah on point pada diksi bahwa di usia yang dalam meniti usia senja banyak tarian lincah penanya yang tak pandang usia. Beliau menebar tetesan renjana bagi setiap insan untuk berkarya. Beliau dikenal sebagai Ibu bagi literasi bangsa. Sang Ratu antologi yang tak pernah lelah memberi makna dalam tiap titian senja. *Ibu Dra. Sri Sugiastut, M. Pd.*
Ada apa gerangan yang menjadi motivasi beliau sehingga terus mau berkarya dengan tulisannya??
Apakah memang sebuah renjana atau ada motivasi lainnya??
Kalau difikir, diusianya yang sudah bukan dikatakan muda lagi masih mau menulis sampai ratusan buku antologi dan 37 buku solo dari yang saya baca biografinya, kayaknya finansial juga bukan alasan. Secara beliau bergelar S2 masa sih...belum mapan secara finansial bagi ibu yang berhobi traveling, membaca itu. kayanya sih... gak ya.....??? heheheh
lantas apa yang menjadi motivasi utama beliau ya....?
Ternyata...... eh ternyata....
Motivasi beliau muncul pada saat masih duduk di jenjang SD tepatnya kelas 6 dari hobi membaca buku diary yang di buat sedemikian rupa pada zamannya yang hanya berisi nama, hobi, lagu kesayangan, pantun, moto , cita-cita dari isian teman sekelasnya. Selain itu, ada support system dari orangtua di mana sering diajak ke toko buku, atau membaca keras secara bergantian. Sehingga secara berproses mulai ada kesenangan ada kecintaan ketika menulis dan beliau jadikan sarana dakwah, sarana selfhealing, sarana silahturahmi serta banyak lagi sebagai motivasi utamanya.
Kuncinya ada di branding bahwa jadikan _Writing is my passion._
_Passion_ sebuah renjana atau gairah.
Satu gairah yang terus menggelora karena terus dijaga dengan memiliki banyak komunitas menulis.
Menulis menjadi kebutuhan seperti Maaf BAB..jadi bila belum ditunaikan merasa ada yang kurang.
Jangan takut menulis dan takut salah. Bila merasa vocab masih minim perbanyak membaca. Jangan khawatir setiap tulisan ada takdirnya. Perlahan tapi pasti ibu akan memiliki rasa percaya diri. Kuncinya niat. Kemudian pastikan saya nulis buku tujuannya apa?
Target pembacanya siapa?
Awali menulis yang apa yang disukai dan kuasai insyaallah mengalir. Karena, ternyata, menulis itu bukan bakat loh! Tetapi satu keterampilan yang harus dipraktikkan terus menerus. Jadikan Menulis itu menjadi Passion, menjadi sebuah renjana...
Siapa yang suka banyak alasan kalau diajak menulis? Yang sibuk, yang urusan keluarga, mobilitas tinggi dan seribu alasan untuk pembenaran, kalau memang tidak punya waktu.
Alasan lain yang krusial, merasa tidak punya ide. Sementara Ide itu bisa sebuah foto jepretan, rangkaian kegiatan atau pengalaman yang ada di depan mata.
Kendala lainnya yang ditemui dalam kegiatan menulis adalah karena tidak mau dikritik. Padahal menulis adalah proses kreatif. Jangan harapkan kritik yang menjatuhkan , bila kritik yang membangun kita cermati sekaligus sebagai cambuk untuk lanjutkan menulis. Hilangakan rasa merendahkan diri, mematikan potensi yang ada dengan mengatakan bahwa"Saya tidak bisa menulis". Alam bawah sadarnya sudah menolak dan merasa tidak mampu
._Kasian deh gue._
Mengapa menulis menjadi passion yang menjanjikan??
karena selain kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir, menulis juga menjadi sebuah profesi di mana profesi seorang penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihargai dan dihormati secara sosial.
Yess, Antara Renjana dan Menulis. ...
Menulis dan membaca adalah kegiatan literasi yang akan mencerdaskan siapa yang menyadari punya potensi sejak dilahirkan.
Menulis banyak sekali manfaatnya. Jangan ada kata terlambat atau tidak bisa bila belum dicoba atau dipraktikkan.
Teruslah membaca dan menulis agar ada jejak digital maupun bentuk perintah, yang karyanya bisa menjadi warisan, sekaligus sebagai jejak bahwa kita pernah hidup.
Karena,
Setiap kita adalah karya indah...
Setiap kita adalah buku sejarah...
Tergantung kita akan menutup atau membuka sejarah.
Membuka, dan menarikan setiap deretan huruf kenangan. Menggoreskan kisah sejarah dalam keabadiaan. Dikenang dalam peradaban.
Ataukah...
Mengunci rapat buku itu. Dan hanya kita yang tahu.
Tertinggal.... Terlewat... Terkubur tanpa kenangan.
Dan terlupakan tanpa perayaan.
Hanya kita bisa yang menentukan. Jadikan kisah kita abadi dalam ingatan sejarah.
Sekarang atau tergerus roda kesibukan.
*Karena satu ons tindakan nyata lebih berharga dari satu ton niatan.* (red.Widya Althabisma)
Yuuk tentukan renjana Anda.....
lanjutkan...
BalasHapusSemangat menulis dan berkarya
BalasHapusSudah kereen ini
BalasHapusBagus , lengkap isinya
BalasHapusIndahnya berbagi dan Berkolaborasi
BalasHapusPerfecto...
BalasHapus