Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

 

Dalam kesempatan ini, saya akan mencoba menuliskan sebuah pemahaman saya selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7. Pada modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin di kegiatan Koneksi Antar Materi CGP harus membuat koneksi antar materi dari materi dengan modul-modul sebelumnya yang sudah dipelajari selama Pendidikan Guru Penggerak. 

Dalam sebuah kalimat yang dikemukakan oleh Bob Talbert : “Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best (Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik)”

Dalam modul 3.1.a.8 materi Koneksi antar materi ini secara garis besar menjelaskan mengenai  dua hal :

a)     Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

b)  Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Dari kedua pertanyaan pemantik di atas, saya mendeskripsikan pemahaman saya mengenai pembelajaran yang saya dapatkan dalam Pendidikan Guru PenggeraK dan saya rangkum dalam jawaban dari pertanyaan yang ada pada modul 3.1 menjadi proses pembelajaran sebagai CGP pada program guru penggerak ini dari awal sampai dengan saat ini .

1.  Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Pratap Triloka khususnya ing ngarso sung tuladha memberikan pengaruh yang besar dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. KHD berpandangan bahwa sebagai seorang guru, itu harus memberikan tauladan atau contoh praktik baik kepada murid. Dalam setiap pengambilan keputusan, seorang guru harus memberikan karsa atau usaha keras sebagai wujud filosofi Pratap Triloka ing madyo mangun karsa dan pada akhirnya guru membantu murid untuk dapat menyelesaikan atau mengambil keputusan terhadap permasalahannya secara mandiri karena guru dalam wujud filisofi pratap Tutwuri Handayani, guru hanya memberi dukungan atau dorongan.  Dengan berprinsip pada filosofi Pratap triloka, maka seorang guru akan lebih mudah dalam membuat suatu keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran, karena seorang pemimpin haruslah bisa memberikan suatu keteladanan. Baik bertindak maupun bertutur kata harus senantiasa berfikir secara bijak. Beberapa kebijakan yang diambil nantinya akan memberikan pengaruh kepada orang yang sedang mengalami masalah. Dalam hal inilah maka penerapan Ing Madya Mangun Karsa dan Tutwuri Handayani perlu diterapkan. 

Guru hanya sebagai pamong yang mengarahkan murid menuju kebahagiaan. Hal ini sesuai dengan filosofi Pratap Triloka Tut Wuri Handayani.Pemakaian metode among dibuat untuk menghindari segala bentuk paksaan dari pendidik ke murid-murid.Ini selaras dengan pemikiran KHD yaitu “Pemakaian metode among, suatu metode yang tidak menghendaki “paksaan-paksaan”, melainkan memberi “tuntutan” bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan subur dan selamat, baik lahir maupun batinnya.”. Karena dalam memberikan keputusan, seoramng guru tidak serta merta berfikir dengan satu prinsip saja. Namun beberapa prinsip seperti prinsip hasil akhir, peraturan, dan rasa peduli.

2.    Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Menurut saya, nilai – nilai yang mulai tertanam pada diri saya selama mengikuti proses pembelajaran Pendidikan Guru Penggerak antara lain sebagai berikut :

a.  Saya mulai memahami serta menerapkan bahwa pengajaran (onderwijs) merupakan salah satu bagian dari pendidikan. Pengajaran adalah sebuah pendidikan dengan cara memberi ilmu yang bermanfaat untuk anak -anak baik secara lahir maupun batin.

b.  Pendidikan ( opvoeding) itu dilakukan dengan cara menuntun kodrat yang dimiliki anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan sebagai manusia dan masyarakat.

c.  Saya berfikir bahwa hidup tumbuh anak itu diluar kehendak pendidik karena anak tumbuh menurut kodratnya sendiri.

d.   Saya mulai menanamkan dalam pola fikir saya bahwa kodrat adalah kekuatan yang ada pada anak. Pendidik hanya bisa menuntun untuk memperbaiki lakunya atau dasarnya.

e.  Pendidikan diibaratkan seorang petani yang hanya bisa merawatnya namun tidak bisa merubah kodrat tanaman yg ia tanam. Biji padi akan tetap menjadi padi. 

Sehingga dengan mulai tertanamnya nilai-nilai yang sudah saya yakini diatas, tentunya beberapa hal tersebut berpengaruh dalam prinsip pengambilan sebuah keputusan.  Karena menurut saya setiap guru sebaiknya memiliki nilai-nilai positif  yang sudah tertanam dalam dirinya.

 

Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi diri seorang guru untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid yaitu nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar, nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Jadi, nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika guru berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan  rasa keduanya  adalah benar, yaitu ketika  berhadapan pada situasi dilema etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.

 

Keputusan  tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh kita yaitu nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya dengan berpedoman pada 3 prinsip yaitu berpikir berbasis hasil akhir, berbasis peraturan dabn berbasis rasa peduli sehingga keputusan yang dihasilkan mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada semua bahkan peserta didik.

 

Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah merupakan cermin dari pelaksanaan kompetensi sosial emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berinteraksi sosial dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.

3.      Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya?

Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.

 

Dalam kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Tentunya hal -hal tersebut diatas sangat mempengaruhi pola fikir dalam  setiap langkah yang saya ambil. Baik penerapan filosofi KHD, maupun penerapan inkuiri apresiatif serta BAGJA. Kedua hal tersebut menjadi pondasi utama dalam setiap keputusan serta Tindakan yang saya laksanakan selama ini.

Sehingga dengan berpedoman pada pemahaman Patrap triloka, inquiri apresiatif, serta BAGJA tentunya pengambilan keputusan dapat dilakukan secara efektif karena sesuai dengan tingkat pemahaman siswa, telah berlandaskan pada perkembangan zaman, kebutuhan siswa, serta disesuaikan dengan kondisi serta potensi yang dimiliki. Itu semua karena prinsip-prinsip yang sudah dipelajari selama ini dapat digunakan untuk melakukan coaching agar dapat menyelesaikan permasalahan serta mengambil sebuah keputusan dengan lebih bijak.

Coaching adalah  keterampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun  masalah yang dimiliki orang lain dengan teknik coaching menggunakan alur TIRTA.

 

Penerapan teknik coaching dengan alur TIRTA yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar  menuntut guru untuk memiliki keterampilan untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. Alur TIRTA yang secara bahasa berasala dari Bahasa Jawa yaitu air  dengan  tahapan dari sebuah singkatan  dari (berarti Tujuan, berarti Identifikasi, R berarti Rencana aksi, dan TA: Tanggung jawab) merupakan satu teknik coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW (Goal /Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini, Reality/Hal-hal yang nyata: proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee, Options /Pilihan: coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi, Will /Keinginan untuk maju: komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.

 

Dari penerepan teknik coaching dengan laur TIRTA kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apabila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

 

4.      Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menjembatani perbedaan minat dan gaya belajar murid di kelas sehingga dalam proses pembelajaran murid mendapatkan pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai profil belajar mereka masing-masing. Untuk itu diperlukan pengambilan keputusan yang tepat agar seluruh kepentingan murid dapat terakomodir dengan baik. Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.

5.      Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pada pembahasan studi kasus yang focuks pada masalah moral atau etika seorang pendidik, pastinya kita harus Kembali mengingat nilai dan peran seorang pendidik. Sejatinya guru sebagai pendidik adalah seorang suri tauladan untuk siswa-siswinya. Prinsip moral dari dalam diri haruslah disesuaikan dengan prinsip etika, rasa peduli, berfikir jangka Panjang. Sekalipun hal tersebut berbenturan dengan peraturan. Namun hal tersebut perlu dicermati, difahami situasi dan kondisinya.

Keberpihakan dan mengutamakan kepentingan murid dapat tercipta dari tangan pendidik yang mampu membuat solusi tepat dari setiap permasalahan yang terjadi. Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari kacamata dan pendidik yang dengan tepat mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika atau bujukan moral.

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak. Kita tahu bahwa nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

6.      Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Pengambilan keputusan yang tepat terkait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang di antaranya adalah dengan mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam sebuah situasi, menentukan siapa yang terlibat dalam situasi tertentu, mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi, .mengujikan benar atau salah ( uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, uji panutan), melakukan pengujian paradigma benar lawan benar ( Individu lawan masyarakat /individual vs community, Rasa keadilan lawan rasa kasihan/justice vs mercy, Kebenaran lawan kesetiaan /truth vs loyalty,  Jangka pendek lawan jangka panjang/short term vs long term), melakukan Prinsip Resolusi dengan menentukan 3 prinsip penyelesaian dilema (Berpikir Berbasis Hasil Akhir/Ends-Based Thinking, Berpikir Berbasis Peraturan/Rule-Based Thinking, Berpikir Berbasis Rasa Peduli/Care-Based Thinking), Investigasi Opsi Trilema, Buat Keputusan serta dengan melihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7.      Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan  terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Jawaban saya yaitu iya, kesulitan muncul karena masalah perubahan paradigma dan budaya sekolah yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Diantaranya adalah sistem yang kadang jika memaksa guru untuk memilih pilihan yang salah atau kurang tepat dan tidak berpihak kepada murid. Yang kedua tidak semua warga sekolah berkomitmen tinggi untuk menjalankan keputusan Bersama. Yang ketiga keputusan yang diambil kadang kala tanpa sepenuhnya melibatkan guru sehingga muncul banyak kendala-kendala dalam proses pelaksanaan pengambilan keputusan.

8.      Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Jelas sekali terasa adanya perubahan pada diri saya dalam praktik nyata di sekolah, bahwa pada akhirnya pelaksanaan pembelajaran yang memerdekakan murid dengan menerapkan filosofi KHD, penerapan inquiri apresiatif, BAGJA, pembelajaran berdiferensiasi, KSE sangatlah  membantu saya dalam  mengambil sebuah keputusan karena didasari dengan prinsip-prinsip ilmu tersebut dan dilakukan dengan tekhnik coaching dalam  mencari akar permasalahannya, sehingga pengambilan keputusan tidak merugikan anak dan berpihak kepada mereka.

Selain itu menurut pendapat saya, semua juga tergantung kepada keputusan seperti apa yang diambil, apabila keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid dalam hal ini tentang metode yang digunakan oleh guru, media dan sistem penilaian yang dilakukan yang sudah sesuai dengan kebutuhan murid, maka hal ini akan dapat memerdekakan murid dalam belajar dan pada akhirnya murid dapat berkembang sesuai dengan potensi dan kodratnya. Namun sebaliknya apabila keputusan tersebut tidak berpihak kepada murid, dalam hal metode, media, penilaian dan lain sebagainya maka kemerdekaan belajar murid hanya sebuah omong kosong belaka dan tentunya murid tidak akan dapat berkembang sesuai potensi dan kodratnya.

9.      Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi orang-orang yang merdeka, kreatif , inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. Di masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.

 

Keputusan yang diambil oleh seorang guru akan menjadi ibarat pisau yang disatu sisi apabila digunakan dengan baik akan membawa kesuksesan dalam kehidupan murid di masa yang akan dating. Demikian sebaliknya apabila kebutuhan tersebut tidak diambil dengan bijaksana maka bisa jadi berdampak sangat buruk bagi masa depan murid-murid. Keputusan yang berpihak kepada murid haruslah melalui pertimbangan yang sangat akurat dimana dilakukan terlebih dahulu pemetaan terhadap minat belajar, profil belajar dan kesiapan belajar murid untuk kemudian dilakukan pembelajaran berdiferensiasi yaitu melakukan diferensiasi konten, diferensiasi proses dan diferensiasi produk.

Hal ini sangatlah berpengaruh untuk hasil akhirnya. Seberapa besar dampak yang akan diterima anak? Apakah berdampak postif ? atau malah berdampak negatif? Hal ini perlu difikirkan matang-matang sebelum keputusan diambil.

 

10.  Apakah  kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang didapat dari pembelajaran modul ini yang dikaitkan dengan modul-modul sebelumnya adalah  bahwa pengambilan keputusan merupakan  suatu kompetensi atau keterampilan yang harus dimiliki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu pratap triloka yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Selain itu penerapan Inquiri Apresiatif, Pembelajaran Berdiferensiasi, serta pengendalian diri guru dalam emosi dengan menerapkan KSE dapat membantu saat melkukan tekhnik coaching serta mencari tau permasalahan yang dihadapi siswa maupun guru untuk menangani sebuah permasalahan serta dapat mencari sebuah solusi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki. 

 

Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being) dimana dalam  pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfulness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.

 

Dalam perjalanannya menuju Profil Pelajar Pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.

11.  Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Pemahaman saya tentang konsep yang saya pelajari di modul ini adalah sebagai beirkut:

·      Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah.Dalam dilema etika yang membuat bingung pengambil keputusan terdapat empat paradigma berpikir yaitu individu lawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka pendek lawan jangka panjang.

·       4 paradigma ini akan menjadi salah satu pertimbangan mana kepentingan yang akan diambil untuk memenangkan 1 keputusan.Dilema etika seringkali membuat kita sulit untuk mengambil keputusan. Namun kita dapat membuat Keputusan berdasarkan pada prinsip-prinsip mengambil keputusan untuk kebaikan orang banyak atau yang kita kenal dengan Berpikir Berbasis pada Hasil Akhir (Ends Based Thinking),kemudian memberikan keputusan dengan prinsip menjunjung tinggi nilai-nilai prinsip dalam diri atau yang sering kita sebut dengan Berpikir Berbasis Peraturan (Rules Based Thinking),dan yang terakhir melakukan keputusan dengan memandang bahwa kita juga ingin diperlakukan sama oleh orang lain atau kita kenal dengan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Cares Based Thinking).

·      Sebelum mengambil keputusan, terdapat 9 (sembilan) langkah yang dapat disusun untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan dan diluar dugaan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan namun kesembilan langkah tersebut tidak harus kita lakukan semua karena jika keputusan yang kita ambil berdasarkan fakta dan data yang akurat serta melalui komunikasi dan kolaboratif dengan berbagai pihak dengan tetap berpegang pada nilai kebajikan maka keputusan yang diambil pasti akan meminimalisir dampak buruk yang berkelanjutan.

12.  Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini saya pernah menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin didalam kelas atau lingkungan kerja saya dalam situasi moral dilema dan setelah memepelajari modul 3.1 ini terlihat jelas perbedaannya yaitu saya belum mengerti tentang 4 paradigma berpikir, dengan 3 prinsip dan langkah-langkah pengambilan keputusan dilema etika sehingga saat saya mengambil keputusan hanya berdasarkan intuisi dan pengalaman namun tentunya keputusan tersebut melalui pertimbangan matang berdasarkan data dan fakta yang ada serta melibatkan berbagai pihak yang terlibat kemudian keputusan tersebut selalu berusaha berpihak pada kepentingan kedua belah pihak sehingga hasil keputusan dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan asas keadilan dan kasih sayang

13.  Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak bagi saya setelah mempelajari konsep adalah saya perlu lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan karena segala keputusan yang saya buat yakni berusaha menerapkan sesuia 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengambilan keuputusan karena setiap keputusan akan berdampak besar bagi orang yang sedang terlibat masalah dilema sehingga dalam pengambilan keputusan harus berpijak pada semua nilai kebajikan universal yang berlaku dengan mempertimbangkan banyak hal sebelum keputusan diambil dan dilaksanakan.

14.  Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Modul tentang pengambilan keputusan ini sangat penting untuk dipelajari oleh saya mengingat saya adalah seorang guru dalam kapasitas mengajar dan mendidik yang notabene akan menghadapi kasus atau permasalah yang di dalamnya pasti dihadapkan  pada dilema etika atau bujukan moral terutama dengan semua permasalahan dengan murid dan rekan sejawat. Dengan mempelajari modul ini dapat membuat pikiran saya terbuka dan lebih luas pandangan serta pertimbangan-pertimbangan yang perlu dilakukan dalam pegambilan keputusan apalagi dalam modul ini ada penjelasan tentang 4 paradigma, 3 prinsip serta 9 langkah dalam pengambilan kepitusan dimana selama ini saya selaku pemimpin pembelajaran saat mengambil keputusan hanya melalui bebrapa langkah saja dari 9 langkah. Semoga kedepannya saya lebih bijak dan lebih baik lagi dalam mengambil keputusan yang berpihak pada murid atau berpihak pada nilai kebajikan jika melibatkan banyak pihak.

Komentar