Artikel Pemenuhan Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kelas

Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi di dalam Kelas

Pembelajaran Berdiferensiasi dan Penerapannya di Kelas

Pembelajaran berdiferensiasi mengubah pemikiran pendidik terutama saya tentang bagaimana merancang dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Sebelumnya, mungkin peerencanaan kegiatan pembelajaran yang saya susun memiliki monotonism dari kegiatan pembelajaran, proses, penilaian dan evaluasi untuk semua murid di kelas saya. Tetapi, dalam mempelajari tentang pemenuhan kebutuhan belajar melalui pembelajaran melalui pembelajaran berdiferensiasi di modul 2.1 Pendidikan Guru Penggerak, saya menjadi sadar dan lebih terbuka bahwa kebutuhan belajar setiap murid adalah berbeda-beda, yaitu dari kesiapan belajar (readiness), minat murid, dan profil belajar murid. Maka sudah seharusnya guru pun mengelola pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan belajar murid dan mengoptimalkan potensi-potensi mereka melalui tahapan-tahapan yang dilakukan dengan menciptakan lingkungan belajar yang mendukung murid untuk belajar, menentukan tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas bagi guru dan murid, melakukan penilaian yang berkelanjutan dan manajemen kelas yang efektif, serta sebagai guru sebaiknya mampu merespon kebutuhan belajar yang berkaitan dengan penyesuaian rencana pemebelajaran.

manusia lahir dengan keunikannya masing-masing sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya. Sebagai pendidik kita memiliki kewajiban untuk memastikan setiap anak  mendapat kesempatan yang sama untuk belajar dengan cara terbaik yang sesuai untuk mereka. Praktik pembelajaran berdiferensiasi tidak hanya memaksimalkan potensi murid, namun juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk mempelajari berbagai nilai-nilai kehidupan yang penting. Nilai-nilai tentang indahnya perbedaan, menghargai, kekuatan diri, kesempatan yang setara, kemerdekaan belajar, dan berbagai nilai lainnya yang akan berkontribusi terhadap perkembangan diri mereka secara lebih holistik. Oleh karena itu, guru perlu memahami bagaimana mempraktekkan pembelajaran berdiferensiasi dan mengelolanya secara efektif.

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan proses mencari tahu tentang siswa dan bagaimana merespon belajarnya berdasarkan perbedaan. Menurut Tomlinson (2001:45), pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Tomlinson (2001:1) menjelaskan, pada pembelajaran berdiferensiasi berarti mencampurkan semua perbedaan untuk mendapatkan suatu informasi, membuat ide dan mengekspresikan apa yang mereka pelajari. Dengan kata lain bahwa pembelajaran diferensiasi adalah menciptakan suatu kelas yang beragam dengan memberikan kesempatan dalam meraih konten, memproses suatu ide dan meningkatkan hasil setiap murid, sehingga murid-murid akan bisa belajar dengan lebih efektif. Pendidik harus memodifikasi isi, proses/cara berpikir dan produk yang harus dikerjakan sebagai evaluasi berdasarkan karakteristik anak, kesiapan anak, kesukaan anak, kecerdasan majemuk, pemberian instruksi dan pembelajaran atau materi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemampuan anak, memperdalam pemahaman, dan melibatkan kerja kelompok. (Hollas, 2005:2).

Bagaimana Pembelajaran Berdiferensiasi dapat Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid dan Membantu Mencapai Hasil Belajar yang Optimal?

Pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar murid. Guru memfasilitasi murid sesuai dengan kebutuhannya, karena setiap murid mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi guru perlu memikirkan tindakan yang masuk akal yang nantinya akan diambil, karena pembelajaran berdiferensiasi tidak berarti pembelajaran dengan memberikan perlakuan atau tindakan yang berbeda untuk setiap murid, maupun pembelajaran yang membedakan antara murid yang pintar dengan yang kurang pintar.

Tujuan pembelajaran berdiferensiasi adalah sebagai seorang pendidik dapat mensintesis serta menganalisis kebutuhan murid sehingga kita bisa mengakomodir tujuan pembelajaran untuk semua keragaman siswa. Pendidik harus proaktif menemukan dan melakukan perencanaan dengan berbagai startegi untuk bisa mengoptimalkan bagaimana murid-muridnya belajar. Dalam hal ini sebagai pendidik dapat merencanakan bagaimana murid-murid belajar dengan melakukan pemetaan terlebih dahulu berdasarkan tingkat kesiapan belajar murid (readiness), minat (interest), dan gaya belajar (profile) setiap murid-muridnya.

1.  Kesiapan belajar (readiness) merupakan kapasitas murid untuk mempelajari materi baru. Murid yang sudah memiliki pengetahuan mengenai apa yang akan dipelajari, memahaminya dan memiliki keterampilan yang baik, bisa jadi lebih sukses dan bisa mencapai tugas yang diberikan dibanding murid yang sama sekali belum memiliki pengetahuan tentang apa yang akan dipelajari. Kesiapan belajar murid juga dapat diukur dengan melihat apakah murid di kelas berada pada level belajar abstrak atau konkret. Maka guru harus mempertimbangkan tingkat kesiapan murid dengan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan yang memadai sehingga dapat membawa murid keluar dari zona nyaman mereka, dan mereka tetap dapat menguasai materi sesuai dengan tingkat kesiapan mereka. 

2.   Minat (interest) adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada situasi atau objek tertentu. Minat merupakan motivasi penting bagi murid agar dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Mempertimbangkan minat murid dalam merancang pembelajaran memiliki tujuan menghubungkan murid pada pelajaran untuk menjaga minat mereka. Dengan menjaga minat murid tetap tinggi, diharapkan dapat meningkatkan kinerja murid. Dalam menyusun teks prosedur misalnya, murid yang memiliki minat pada sepak bola boleh menulis cara menendang bola dengan benar, atau murid yang suka dengan memasak dapat menulis bagaimana cara membuat ayam goreng yang enak.

3.  Gaya belajar (Profil belajar) murid mengacu pada cara-cara bagaimana mereka sebagai individu paling baik belajar. Memetakan kebutuhan belajar murid berdasarkan gaya belajar mereka bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar secara alamiah dan efisien.  Oleh karena itu sangat penting bagi guru untuk memvariasikan metode dan pendekatan mengajar mereka. Guru mengamati apakah siswa lebih tertarik pada hal yang bersifat visual, auditori, atau kinestetik. Guru dapat menggunakan banyak gambar untuk mempermudah gaya belajar murid yang tertarik secara visual. Beberapa sudut belajar atau poster/display yang ditempel pada tempat yang berbeda dapat membantu murid yang memiliki gaya belajar kinestetik.

Berdasarkan ketiga aspek kebutuhan belajar murid di atas, guru dapat melakukan diferensiasi agar kebutuhan belajar setiap murid terpenuhi dan hasil belajar mereka optimal. Diferensiasi dapat dilakukan pada 3 (tiga) hal yaitu konten, proses, dan produk.

 

1.   Diferensiasi konten

Konten adalah apa yang kita ajarkan kepada murid. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap kesiapan, minat, dan profil belajar murid maupun kombinasi dari ketiganya.Guru perlu menyediakan bahan dan alat sesuai dengan kebutuhan belajar murid.

 

2.   Diferensiasi proses

Proses mengacu pada bagaimana murid akan memahami atau memaknai apa yang dipelajari.Diferensiasi proses dapat dilakukan dengan cara: menggunakan kegiatan berjenjang, menyediakan pertanyaan pemandu atau tantangan yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat,  membuat agenda individual untuk murid (daftar tugas, memvariasikan lama waktu yang murid dapat ambil untuk menyelesaikan tugas, mengembangkan kegiatan bervariasi 

 

3.   Diferensiasi produk

Produk adalah hasil pekerjaan atau unjuk kerja yang harus ditunjukkan murid kepada kita (karangan, pidato, rekaman, diagram) atau sesuatu yang ada wujudnya. Produk yang diberikan meliputi dua hal yaitu memberikan tantangan dan keragaman atau variasi dan memberikan murid pilihan bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.

 

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain:

1.    Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)

2.    Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)

3.    Mengevaluasi dan merefleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Contoh kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah ketika proses pembelajaran guru menggunakan berbagai cara agar murid dapat mengeksploitasi isi kurikulum, guru juga memberikan beragam kegiatan yang masuk akal sehingga murid dapat mengerti dan memiliki informasi atau ide, serta guru memberikan beragam pilihan di mana murid dapat mendemonstrasikan apa yang mereka pelajari. Contoh kelas yang belum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi adalah guru lebih memaksakan kehendaknya sendiri. Guru tidak memahami minat, dan keinginan murid. Kebutuhan belajar murid tidak semuanya terpenuhi karena ketika proses pembelajaran menggunakan satu cara yang menurut guru sudah baik, guru tidak memberikan berbagai kegiatan dan beragam pilihan.

Mengapa Pembelajaran Berdiferensiasi?

Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi tentunya kita akan mengalami berbagai tantangan dan hambatan. Guru harus tetap dapat bersikap positif, Untuk tetap dapat bersikap positif meskipun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah:

1.        Terus belajar dan berbagi pengalaman dengan teman sejawat lainnya yang mempunyai masalah yang sama dengan kita (membentuk Learning Community)   

2.        Saling mendukung dan memberi semangat dengan sesama teman sejawat.

3.        Menerapkan apa yang sudah kita peroleh dan bisa kita terapkan meskipun belum maksimal.

4.        Terus berusaha untuk mengevaluasi dan memperbaiki proses pembelajaran yang sudah diterapkan.

    Kaitan Pembelajaran Berdifrensiasi dengan Filosofi Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, Visi Guru penggerak, serta Budaya Positif.

Pembelajaran berdiferensiasi sangat berkaitan dengan filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara. Salah satu filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara adalah sistem “among”, guru harus dapat menuntun murid untuk berkembang sesuai dengan kodratnya, hal ini sangat sesuai dengan pembelajaran berdiferensiasi. Menurut Ki Hajar Dewantara, guru diibaratkan seorang petani dan murid adalah benihnya. Seorang petani tugasnya adalah merawat dan menjaga benih-benih itu, tentu saja benih yang tumbuh itu berbeda-beda dalam perkembangannya dan juga berbeda jenisnya. Misalkan untuk merawat benih jagung tentu saja akan berbeda dengan merawat benih padi. Seorang petani harus memberikan perawatannya sesuai dengan kebutuhan benih-benih yang berbeda tadi sampai semuanya berbuah.

Salah satu nilai dan peran guru penggerak adalah menciptakan pembelajaran yang berpihak kepada murid, yaitu pembelajaran yang memerdekakan pemikiran dan potensi murid. Hal tersebut sejalan dengan pembelajaran berdiferensiasi. Guru masih harus berjuang mencari waktu di sela-sela jadwalnya. Selanjutnya, guru juga harus cermat dan tanggap dengan siswa di kelasnya. Namun, untuk dapat mengatasi tantangan tersebut, terlebih dahulu diperlukan perubahan paradigma pada diri guru dalam memandang siswa. Mulai dari anggapan siswa itu seragam sampai anggapan siswa itu beragam. Sehingga tergerak di benak guru untuk mengajar menggunakan pembelajaran berdiferensiasi agar materi yang disampaikan lebih mengenal pada siswa.

Salah satu visi guru penggerak adalah mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasila, untuk mewujudkan visi tersebut salah satu caranya adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. kita sebagai Pendidik harus jeli dalam melihat keberagaman kebutuhan siswa, ada yang lambat, sedang, dan cepat. Ada yang suka agama, sains, seni, olahraga, dan sebagainya. Ada yang suka belajar dengan cepat melalui penglihatan, pendengaran, atau kinestetik. Semua harus kita akomodir dalam proses pembelajaran.

Budaya positif juga harus kita bangun agar dapat mendukung pembelajaran berdiferensiasi. Kita sadari betul bahwa untuk melakukan sebuah perubahan itu dibutuhkan tekad dan upaya yang keras, konsisten, dan berkesinambungan serta kolaborasi dengan semua pihak.


  

Komentar